29 Desember 2013

Cerita Kebodohan Masa Kecil

Masa kecil, masa yang menyenangkan. Banyak kebahagiaan, banyak kesan, banyak kenangan yang membuat kita kembali mengenang masa dimana kita masih unyuk-unyuknya itu. Dari semua kenangan itu pasti ada diantaranya kenangan tentang kebodohan-kebodohan kita, yang justru menyenangkan juga. :D
Termasuk aku sendiri. Saat kecil aku anak yang jail, suka menertawakan banyak hal. Termasuk menertawakan kebodohanku sendiri.

Aku masih ingat ketika SD kelas 2, kira-kira umurku 8 Tahun. Hah?! Kelas 2SD umur 8Tahun? Iya, waktu itu aku punya ayah yang super asik, saat aku umur 6Tahun ayah bertanya padaku apakah aku sudah mau dimasukkan sekolah? Dan jawabanku TIDAK! Ayah menerima jawabanku dengan lapang dada. Jadinya umur 7Tahun barulah aku masuk SD.

Karena masih kecil, gak mungkin dong berangkat dan pulang sekolahnya dibiarin sendirian. Mestinya dianter jemput sama ibunya, seperti kebanyakan anak kecil yang lain deh. Tapi, karena aku memiliki ibu yang super sibuk, aku diberangkatin sekolah bareng pak Uteh. Pak Uteh itu kerjanya sebagai tukang antar-jemput anak sekolahan, naik becak yang pak Uteh buat sendiri. Ibuku membayar sejumlah uang perbulannya untuk jasa pak Uteh. Bareng 9anak lainnya aku berangkat sekolah setiap pagi diantar pak Uteh. Sebenernya aku males berangkat sama pak Uteh, karena di dalam becak itu kebanyakan anak-anak ceweknya. Tau deh anak-anak suka banget ejek-ejekan. Tapi aku gak bisa berbuat banyak, karena ibu selalu mengawasi tiap pagi sampai aku benar-benar naik ke becak pak Uteh itu. Beda cerita saat pulang sekolah, aku selalu menghindar dari pak Uteh. Aku ngumpet tiap kali pak Uteh datang menjemput, sampai pak Uteh lelah mencari dan menunggu aku, dan pergi bersama anak-anak yang lain. Lalu aku pulang sendiri naik angkot. Pak Uteh tau aku menghindar darinya, dan selalu menceritakan pada ibuku tentang keluhannya. Dan saat tiba di rumah, aku langsung diomelin sama ibu. Ya, namanya juga ibu-ibu.

Sampai pada suatu hari yang cerah, pak Uteh baru saja pergi meninggalkan sekolahku setelah lama menungguku yang tak kunjung datang karena bersembunyi. Aku senang, aku ngata-ngatain pak Uteh, ngoceh sendiri. Yaudah aku mau pulang nih, naik angkot lagi. Uangku di saku tinggal 100rupiah, pas-pasan untuk ongkos. Uangku habis kubelikan jajanan saat jam istirahat tadi. Aku pegangi terus uang itu di tangan kananku, aku berhentikan angkot lalu naik menuju pulang ke rumahku. Di dalam angkot aku masih memegangi uang logam 100rupiah itu, aku asik menikmati perjalanan menuju rumah. Penumpang yang lain udah pada turun, tinggal aku sendiri. Angkot yang aku naikin ini sudah sangat buruk, bangkunya bolong-bolong, banyak sobekan dimana-mana. Sampai tiba-tiba ban angkotnya terkena lubang yang cukup dalam, aku tersentak dan menjatuhkan uang logamku ke dalam lubang bangku angkot itu. Aku panik, uang logamku manaaaaa?!!! Aku cari-cari, aku masukkan tanganku ke lubang bangku itu, tapi tidak ketemu juga. Aku makin panik, aku takut, uangku tinggal itu. Rumahku semakin dekat dan uang logam itu belum juga kutemukan. Tidak ada orang lain di dalam angkot tempat meminta pertolongan, aku harus bagaimana? Baru saja kulihat rumahku kelewatan, aku makin takut. Aku takut turun, tapi aku lebih takut kejauhan dari rumah. Aku beranikan diri, aku pencet aja belnya. Angkot berhenti, aku turun dengan langkah kaki yang gemetar. Aku nggak lari, aku samperin supir angkotnya. Abang supir angkotnya menjulurkan tangan, tanda meminta ongkos. Aku diam. Mana ongkosnya, dek? Tanya abang itu. Aku menangis kencang di depan wajahnya. Huaaaaaaaaaa!!!! Aku nggak ngomong, aku cuma nangis, yang kencang. Huuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!! Mungkin abang supir angkot itu sedih melihatku. Yaudah, pergi sana. Kata abang itu sambil menjalankan angkotnnya.. Aku berjalan menuju rumah sambil menangis, orang-orang melihat ke arahku, tapi aku tetap nangis, makin kencang. Cukup jauh aku berjalan, sampai di rumah ibu ikutan panik mendengar tangisanku. Tapi namanya juga ibu, sangat pandai menenangkan anaknya, dan juga ibu memang tempat untuk mengadu. Aku ceritakan semua sama ibu, dan tetap aja, aku diomelin lagi. Yaudah, aku terima untuk yang satu ini.

Sejak hari itu, aku memilih pulang bareng pak Uteh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar