Masa kecil, masa yang
menyenangkan. Banyak kebahagiaan, banyak kesan, banyak kenangan yang membuat
kita kembali mengenang masa dimana kita masih unyuk-unyuknya itu. Dari semua
kenangan itu pasti ada diantaranya kenangan tentang kebodohan-kebodohan kita,
yang justru menyenangkan juga. :D
Termasuk aku sendiri.
Saat kecil aku anak yang jail, suka menertawakan banyak hal. Termasuk
menertawakan kebodohanku sendiri.
Aku masih ingat ketika
SD kelas 2, kira-kira umurku 8 Tahun. Hah?! Kelas 2SD umur 8Tahun? Iya, waktu
itu aku punya ayah yang super asik, saat aku umur 6Tahun ayah bertanya padaku
apakah aku sudah mau dimasukkan sekolah? Dan jawabanku TIDAK! Ayah menerima
jawabanku dengan lapang dada. Jadinya umur 7Tahun barulah aku masuk SD.
Karena masih kecil, gak
mungkin dong berangkat dan pulang sekolahnya dibiarin sendirian. Mestinya
dianter jemput sama ibunya, seperti kebanyakan anak kecil yang lain deh. Tapi,
karena aku memiliki ibu yang super sibuk, aku diberangkatin sekolah bareng pak
Uteh. Pak Uteh itu kerjanya sebagai tukang antar-jemput anak sekolahan, naik
becak yang pak Uteh buat sendiri. Ibuku membayar sejumlah uang perbulannya
untuk jasa pak Uteh. Bareng 9anak lainnya aku berangkat sekolah setiap pagi
diantar pak Uteh. Sebenernya aku males berangkat sama pak Uteh, karena di dalam
becak itu kebanyakan anak-anak ceweknya. Tau deh anak-anak suka banget
ejek-ejekan. Tapi aku gak bisa berbuat banyak, karena ibu selalu mengawasi tiap
pagi sampai aku benar-benar naik ke becak pak Uteh itu. Beda cerita saat pulang
sekolah, aku selalu menghindar dari pak Uteh. Aku ngumpet tiap kali pak Uteh
datang menjemput, sampai pak Uteh lelah mencari dan menunggu aku, dan pergi
bersama anak-anak yang lain. Lalu aku pulang sendiri naik angkot. Pak Uteh tau
aku menghindar darinya, dan selalu menceritakan pada ibuku tentang keluhannya.
Dan saat tiba di rumah, aku langsung diomelin sama ibu. Ya, namanya juga
ibu-ibu.
Sampai pada suatu hari
yang cerah, pak Uteh baru saja pergi meninggalkan sekolahku setelah lama
menungguku yang tak kunjung datang karena bersembunyi. Aku senang, aku
ngata-ngatain pak Uteh, ngoceh sendiri. Yaudah aku mau pulang nih, naik angkot
lagi. Uangku di saku tinggal 100rupiah, pas-pasan untuk ongkos. Uangku habis
kubelikan jajanan saat jam istirahat tadi. Aku pegangi terus uang itu di tangan
kananku, aku berhentikan angkot lalu naik menuju pulang ke rumahku. Di dalam
angkot aku masih memegangi uang logam 100rupiah itu, aku asik menikmati
perjalanan menuju rumah. Penumpang yang lain udah pada turun, tinggal aku
sendiri. Angkot yang aku naikin ini sudah sangat buruk, bangkunya
bolong-bolong, banyak sobekan dimana-mana. Sampai tiba-tiba ban angkotnya
terkena lubang yang cukup dalam, aku tersentak dan menjatuhkan uang logamku ke
dalam lubang bangku angkot itu. Aku panik, uang logamku manaaaaa?!!! Aku
cari-cari, aku masukkan tanganku ke lubang bangku itu, tapi tidak ketemu juga.
Aku makin panik, aku takut, uangku tinggal itu. Rumahku semakin dekat dan uang
logam itu belum juga kutemukan. Tidak ada orang lain di dalam angkot tempat
meminta pertolongan, aku harus bagaimana? Baru saja kulihat rumahku kelewatan,
aku makin takut. Aku takut turun, tapi aku lebih takut kejauhan dari rumah. Aku
beranikan diri, aku pencet aja belnya. Angkot berhenti, aku turun dengan
langkah kaki yang gemetar. Aku nggak lari, aku samperin supir angkotnya. Abang supir angkotnya
menjulurkan tangan, tanda meminta ongkos. Aku diam. Mana ongkosnya, dek? Tanya
abang itu. Aku menangis kencang di depan wajahnya. Huaaaaaaaaaa!!!! Aku nggak
ngomong, aku cuma nangis, yang kencang. Huuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!
Mungkin abang supir angkot itu sedih melihatku. Yaudah, pergi sana. Kata abang
itu sambil menjalankan angkotnnya.. Aku berjalan menuju rumah sambil menangis,
orang-orang melihat ke arahku, tapi aku tetap nangis, makin kencang. Cukup jauh
aku berjalan, sampai di rumah ibu ikutan panik mendengar tangisanku. Tapi
namanya juga ibu, sangat pandai menenangkan anaknya, dan juga ibu memang tempat
untuk mengadu. Aku ceritakan semua sama ibu, dan tetap aja, aku diomelin lagi.
Yaudah, aku terima untuk yang satu ini.
Sejak hari itu, aku
memilih pulang bareng pak Uteh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar